Verba volant scripta manent

Kata-kata biasanya tidak berbekas sedangkan apa yang ditulis tetap ada.

Ut sementem feceris ita metes

Siapa yang menanam sesuatu dialah yang akan memetik hasilnya. Siapa yang menabur angin dialah yang akan menuai badai.

Adi et alteram partem atau audiatur et altera pars

Bahwa para pihak harus didengar.

Bis de eadem re ne sit acto atau Ne bis in idem

Mengenai perkara yang sama dan sejenis tidak boleh disidangkan untuk yang keduakalinya.

Erare humanum est, turpe in errore perseverare

Membuat kekeliruan itu manusiawi, namun tidaklah baik untuk mempertahankan terus kekeliruan.

Kamis, 20 November 2014

pengertian masalah sosial

Masalah Sosial
Ilustrasi masalah sosial
Masalah sosial merupakan suatu kondisi yang terlahir dari sebuah keadaan masyarakat yang tidak ideal. Artinya, selama dalam suatu masyarakat masih dijumpai adanya kebutuhan masyarakat yang tidak terpenuhi secara merata, maka masalah sosial akan selalu ada. Dalam kehidupan masyarakat yang heterogen seperti di Indonesia, tentu akan banyak sekali dijumpai permasalahan sosial.
Apalagi masyarakat di lihat dari jumlah penduduk dan keragaman suku budayanya, ini fakta ini bisa menimbulkan konflik dan masalah sosial yang berkembang di masyarakat.  Secara logika negara yang terdiri dari beragam suku memiliki potensi masalah sosial yang begitu tinggi.  Kalau konflik seperti ini tak ditangani dengan baik memicu masalah yang lebih besar lagi.

Definisi Masalah Sosial
Soerjono Soekanto mendefinisikan masalah sosial sebagai suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Unsur-unsur yang ada di masyarakat dapat menimbulkan gangguan terhadap hubungan sosial jika mengalami suatu gesekan atau bentrokan. Akibatnya, kehidupan suatu masyarakat atau kelompok akan goyah.
Masalah sosial ini muncul seiring dengan terjadinya perbedaan yang signifikan antara nilai dalam masyarakat dengan realita atau kenyataan yang terjadi di lapangan. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh masyarakat sendiri, biasanya oleh lembaga yang memang memiliki kewenangan khusus, seperti tokoh masyarakat, musyawarah masyarakat, organisasi sosial, atau pemerintah.
Jenis-jenis Masalah Sosial
Masalah sosial yang ditemui di masyarakat biasanya sangat beragam. Namun, dari keberagaman itu sebenarnya masalah sosial ini dapat dikategorikan ke dalam empat faktor penyebab utamanya, yakni sebagai berikut.

1. Faktor Ekonomi
Masalah ini timbul karena pemicunya  dari faktor negara, biasanya berupa kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya. Masalah sosial jenis ini yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah.  Seperti yang pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1997 sampai 1998 dimana pada masa itu terjadi krisis moneter di Asia Tenggara, yang menyebabkan inflasi besar-besar di Indonesia, Thailand dan Malaysia.  Ekonomi Indonesia diambang kebangkrutan akibatnya terjadi PHK besar-besaran pada industri manufaktur dan perbankan, dan ditambah lagi situasi politik  dalam negeri menjadi kacau. Faktor ekonomi juga berkaitan dengan dinamika politik dalam negeri maupun luar negeri.  
Faktor ekonomi pada kalangan masyarakat kelas bawah, bisa berkembang menjadi tindakan kriminalitas.  Sedangkan pada kalangan atas dan birokrat biasanya melakukan tindakan kejahatan kerah putih.

2. Faktor Budaya
Budaya yang berkembang pada masyarakat memiliki peran banyak  pemicu masalah sosial. Seperti  kebiasaan ijon pada pertanian, pernikahan dini, upacara adat yang terlalu mewah dan berlebihan, kawin cerai, kenakalan remaja, dan sebagainya.  Penyelesaian masalah sosial karena faktor budaya dilakukan secara hati-hati agar tak terjadi resitensi dari anggota masyarakat. Tindakan pelurusan budaya dilakukan oleh orang yang memiliki wawasan budaya, atau malah lebih baik dari kalangan generasi muda.

3. Faktor Biologis
Dahulu masyarakat masih sering mengenal perkawinan sedarah, sehingga menghasilkan keturunan /generasi yang tak sempurna,  seperti cacat fisik maupun lemah IQ, generasi hasil perkawinan sedarah ini yang menimbulkan masalah sosial.  Namun rasanya faktor biologis atau keturunan, sekarang sudah berkurang.  Biasanya berupa penyakit menular, keracunan makanan, dan sebagainya.

4. Faktor Psikologis

Masalah sosial dikarena faktor psikologi, kerap melanda masyarakat perkotaan. Masalah ini timbul karena faktor beban hidup di kota besar lebih berat, pekerjaan yang membikin stress, memicu meraka cepat marah dan terkadang timbul konflik antara tetangga.  Lihat saja prilaku pengendara mobil dan sepeda motor diperkotaan, ternyata bisa merubah karakter sifat manusia.

PAGE 1 

lingkungan sosial


Lingkungan Sosial

Sebelum membahas mengenai permasalahan dalam lingkungan sosial manusia, ada baiknya mengetahui lebih dulu mengenai apa yang dimaksud dengan lingkungan sosial itu sendiri. lingkungan sosial merupakan sebuah hubungan yang didalamnya terdapat interaksi antara masyarakat dan lingkungannya.
Sikap yang ditunjukkan oleh masyarakat terhadap lingkungannya biasanya dipengaruhi oleh nilai sosial, karena hal tersebut adalah hubungan antara keduanya. Jika nilai sosial yang ada dalam lingkungan masyarakat berubah atau bergeser, sikap masyarakat itupun akan juga bergeser atau berubah keadaannya.
Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara manusia dan lingkungan selalu berjalan secara dinamis. Hal ini tetap berjalan terlepas dari baik dan buruknya lingkungan sosial tersebut.
Lingkungan sosial yang ada pada masyarakat saat ini biasanya dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1.       Lingkungan Sosial Primer. Dalam lingkungan ini terdapat hubungan yang terjalin erat antara anggota satu dengan anggota lainnya. Anggota yang ada dalam lingkungan ini satu sama lain saling mengenal dan dekat dengan anggota lainnya.
2.       Lingkungan Sosial Sekunder. Lingkungan sosial ini terlihat dari hubungan anggota yang satu sama lain terlihat longgar.
3.       Tujuan dari dibangunnya hubungan msyarakat dalam lingkungan ini di antaranya;
4.       Untuk membangun rasa satu kesatuan yang terdapat dalam Pancasila yang memang ditanamkan demikian untuk membangun kedekatan satu sama lain.
5.       Supaya tertanaman rasa tolerasi di antara anggota masyarakat tersebut sehingga setiap angggota dapat masuk ke dalam kelompok masyarakat
6.       Agar timbul rasa sosial di antara individu karena saling merasa ketergantungan. Hal ini berkaitan erat dengan kepedulian sosial dalam masyarakat
7.       Adanya nilai-nilai demokrasi yang tumbuh dengan melahirkan sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya, sehingga terciptalah rasa kesatuan di dalamnya.
Dari uraian mengenai lingkungan sosial di atas, mungkin Anda akan menyadari betapa pentingnya kehidupan sosial yang terjalin antarmanusia. Seperti yang sudah diketahui, manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa campur tangan orang lain.
Lingkungan bermasyarakat ini merupakan sebuah kehidupan sosial yang memerlukan hadirnya kelompok masyarakat, yang memang pada dasarnya memaksa setiap individu agar dapat menyesuaikan dirinya dengan segala peraturan, nilai-nilai, maupun adat yang terdapat dalam kelompok masyarakat tersebut.
Dengan kehidupan bermasyarkaat tersebut, ada saatnya lahir sebuah masalah dari lingkungan sosial yang pada umumnya dapat terjadi di masyarkat kalangan manapun. Masalah-masalah yang timbul akibat dari perubahan lingkungan sosial ini pada umumnya adalah akibat dari ketidaksinambungan lingkungan tersebut dengan anggotanya. Masalah-masalah inilah yang kemudian memberikan dampak, baik itu dampak positif maupun negatif bagi lingkungan tersebut.
Saat ini seperti yang sudah diketahui, Indonesia sedang menghadapi masalah-masalah dari lingkungan sosial di berbagai bidang, salah satu masalah yang terjadi dalam llingkungan tersebut disebabkan oleh adanya perubahan sosial masyarakat yang sudah dijelaskan sedikit di atas.
Perubahan inilah yang menyebabkan sebuah dampak yang baik atau pun positif yang berbentuk sebuah kemajuan atau kemunduran dari suatu kelompok masyarakat tersebut.
Perubahan Sosial dalam Lingkungan Sosial
Peningkatan perubahan sosial yang dialami oleh masyarakat mengenai lingkungan sosial ini di antaranya;
1.       Berkembangnya konflik sosial yang terjadi dengan atau tanpa kekerasan yang terjadi di masyarakat. Konflik ini biasanya terjadi akibat persaingan, perbedaan atau lainnya yang menimbulkan rasa sosial yang kurang menerima  dengan adanya perbedaan dan juga persaingan tersebut. konflik ini terjadi berkaitan erat sekali dengan proses mempersatukan masyarakat secara sosial dan mementingakn kata persatuan yang terjalin dalam kehidupan secara bermasyarakat.
2.       Peningkatan angka pengangguran dan juga kemiskinan merupakan suatau masalah lingkungan sosial yang tidak bisa kita abakan begitu saja. seperti yang sudah kita ketahui, khususnya di Indonesia saat ini angka pengangguran dan kemiskinan setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Persoalan ini muncul akibat kurangnya lahan pekerjaan untuk masyarakat. Hal ini  diakibatkan karena kurangnya pengetahuan atau pendidikan. Banyak lapangan pekerjaan yang memecat dan mem-PHK-kan karyawannya yang kemudian menimbulkan bertambahnya angka pengangguran di Indonesia. Selain itu kemiskinan juga disebabkan oleh faktor ekonomi dan juga sistem politik yang mungkin tidak sebanding dengan kondisi di Indonesia saat ini.
3.       Masalah lingkungan sosial lainnya yang terjadi di masyarakat khususnya Indonesia lainnya adalah ledakan jumlah penduduk yang tidak terkontrol lagi. Ledakan jumlah penduduk di Indonesia ini memang sangat tinggi angkanya. Hal ini disebabkan oleh tidak dibatasinya angka kelahiran masyarakat Indonesia dan juga banyaknya perkawinan yang dilakukan pada usia dini. Walau pun masyarakat Indonesia pada umumnya mengetahui mengenai Program Keluarga Berencana, namun hal tersebut belum bisa efektif menekan jumlah kelahiran di Indonesia.
4.       Meningkatnya kesenjangan sosial yang terjadi pada lingkungan masyarakat Indonesia. Kesenjangan sosial terutama kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi di lingkungan masyarkat Indonesia dapat dikatakan sebagai sebuah ketidakseimbangan yang terjadi di lingkungan bermasyarakat dalam kesempatan untuk bekerja, kesempatan untuk berusaha, dan juga kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Sehingga terbentuk lah benteng yang membatasi mana si miskin dan mana si kaya.
5.       Perkembangan zaman meengaruhi gaya hidup masyarakat. Seperti yang sudah diketahui, masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih suka untuk mengikuti mutlak pengaruh yang berasal pengaruh dari barat. Sehingga saat ini masyarakat Indonesia banyak yang berpola hidup kebarat-baratan terutama pola hidup yang terjadi pada generasi muda.
6.       Menurunnya masyarakat yang melestarikan adat istiadatnya. Permasalahan dalam lingkungan sosial ini memang cukup memprihatinkan. Pasalnya, generasi muda bangsa Indonesia seolah tidak peduli terhadap adat tradisional Indonesia pada umumnya dan menganggap kebudayaan barat lah yang wajib dan bagus untuk diikuti. Hal inilah yang kemudian menenggelamkan budaya Indonesia sendiri dan mungkin akan menjadi punah dengan sendirinya.
7.       Distribusi masyarakat penduduk yang tidak merata banyak menimbulkan masalah baru dalam lingkungan sosial di Indonesia. Adanya sistem urbanisasi yang menyebabkan banyak masyarakat desa yang berpindah ke kota untuk mengubah nasibnya menyebabkan meningkatnya penduduk kota. Hal ini kemudian membuat banyaknya masyarakat desa bekerja sebagai pengemis atau pemulung yang tidak memiliki tujuan tempat atau sanak saudara di kota. Selain itu, dengan padatnya penduduk di kota menyebabkan banyaknya aksi kriminal yang dilakukan oleh masyarakat.
8.       Dalam sebuah lingkungan sosial, tentu terdapat berbagai macam masalah. Salah satunya adalah masalah kesehatan. Banyak saat ini penyakit yang belum bisa ditanggulangi. Sehingga angka kesehatan yang ada di masyrakat ini masih banyak yang tidak dipedulikan. Inilah yang harus disadari oleh masyakat banyak akan pentingnya sebuah lingkungan yang sehat dan menjadikan masyarkat yang sehat pula.
Banyak masalah-masalah yang terjadi di lingkungan sosial yang mungkin banyak yang dialami sendiri, misalnya masalah sosial kenakalan remaja, kurangnya tingkat pendidikan, penyalahgunaan narkoba dan rusaknya moral anak bangsa yang saat ini begitu memprihatinkan.
Hal demikian memang merupakan segelintir maslah yang timbul di lingkungan sosial sekitar masyarakat Indonesia. Masalah-masalah sosial demikian harus lah mendapatkan perhatian yang lebih dari masyarkat dan juga pemerintah itu sendiri. Karena pada dasarnya masyarakat hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah yang rela dan sigap dalam membangun negeri ini supaya menjadi sebuah negeri yang damai dan menjadi negeri yang dihormati oleh negara-negara lainnya.
Lingkungan sosial memang menjadi salah satu faktor pembangun moral, tatakrama, dan juga pola pikir sebuah masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan lingkungan perlu dilakukan sebaik-baiknya, juga untuk melindungi masyarakat dari pengaruh buruk yang dihasilkannya.


Terima kasih......

Rabu, 19 November 2014

kompeten sosial


Kompetensi Sosial
Seperti yang sudah diketahui, peran orangtua dalam tumbuh kembang anak merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sosialisasi anak. Peranan orangtua dimulai dari masa bayi, ketika orangtua memberikan perhatian yang lebih dan berkomunikasi dengan anaknya walaupun belum secara baik. Hal ini terus berkembang hingga anak sudah mulai bisa berkomunikasi secara baik dan dapat berinteraksi dengan orangtuanya.
Di sinilah orangtua berperan memberikan pengarahan dan bimbingan pada anak dalam interaksi sosial. Interaksi-interaksi sosial yang dibangun oleh anak ini kemudian akan menghasilkan kompetensi sosial yang sangat penting.
Kompetensi sosial yang dibangun dengan pengarahan-pengarahan orangtua, nantinya akan membantu anak dalam menghadapi kehidupan sosialnya. Seperti penilaian terhadap orang lain, kooperatif dalam lingkungannya, ramah terhadap teman sebayanya, sopan santun dan lain sebagainya.
Dalam hal ini, peran orangtua menjadi salah satu pendukung agar anak dapat bergabung dengan kelompok teman sebayanya. Biasanya orangtua menginginkan anaknya untuk bisa bergabung dalam kelompok teman sebayanya. Hal ini dikarenakan banyak pelajaran yang bisa diambil oleh anak dari mulai belajar mandiri dan bersosialisasi.
Banyak orangtua yang menginginkan anaknya bisa bergaul dalam lingkungan yang baik dan bisa diterima oleh anak-anak lainnya. Secara sosial, anak dapat dikatakan sebagai sosialis yang bisa dengan mudah masuk ke dalam lingkungannya sendiri.
Akan tetapi, orangtua biasanya ingin mengatur keberadaan anak dalam lingkungan yang baik dan juga pergaulan yang baik. Pengaturan orangtua terhadap anaknya ini merupakan sebuah hal yang menunjukkan bagaimana pola asuh orangtua terhadap anaknya tersebut.
Gaya Asuh Orangtua dan Kompetensi Sosial
Dalam lingkungan pergaulan sang anak, setiap orangtua tentu mengharapkan anaknya tergolong sebagai anak yang baik, yang mau berbagi dengan teman sebayanya serta tidak mudah terpengaruh oleh teman-teman sebayanya yang dinilai kurang baik. Hal inilah yang kemudian melahirkan peraturan-peraturan dari orangtua yang membatasi anak dalam membangun hubungan sosial.
Kompetensi sosial anak serta pola asuh orangtua seringkali berbenturan. Akan tetapi, di antara kedua faktor sosial anak tersebut terdapat jembatan yang nantinya akan membentuk karakter anak. Hal inilah yang kemudian menjadi sebuah permasalahan ketika anak tumbuh menjadi remaja atau dewasa. Pergaulan menjadi sebuah hal yang penting daripada peraturan yang dibangun oleh orangtua.
Pola asuh orangtua seringkali berpusat pada pengontrolan, pengaturan dan pelarangan pada sang anak. Walaupun tidak semua gaya asuh orangtua menekankan hal-hal demikian. Hal inilah yang melibatkan pola asuh orangtua dengan kompetensi sosial anak.
Menurut Baumrind dalam bukunya yang berjudul Darling, terdapat dua perbedaan mengenai pola asuh orangtua yaitu parental responsiveness dan parental demandingness.
Parental responsiveness merupakan pola pengasuhan orangtua yang memupuk anak untuk menjadi dirinya sendiri dan memupuk kesadaran akan perkembangan individualisme anak. Dalam hal ini, orangtua senantiasa mendukung, mendengar dan memenuhi kebutuhan khusus dan tuntutan yang dilontarkan anak.
Pola asuh orangtua ini akan berkaitan dengan kompetensi sosial anak yang nantinya berpengaruh pada sosialisasi anak dengan lingkungan pertemanannya.
Sedangkan untuk pola asuh orangtua dengan cara parental demandingness merupakan pola asuh ketika orangtua memosisikan anak sebagai hal yang harus dikontrol dalam setiap gerak-geriknya. Orangtua menuntut anaknya untuk tetap terhubung dalam keutuhan keluarga serta menuntut anak untuk tetap berada dalam jalur yang baik. Dengan cara mengawasinya, mendisiplinkannya dan mengonfrontasi ketika anak berada dalam satu keadaan yang dianggap sebagai suatu kekeliruan.
Orangtua yang demikian merupakan orangtua dengan gaya otoriter yang cenderung ingin mengatur tanpa mau mendengarkan keinginan dan kehendak sang anak. Pola asuh orangtua yang seperti ini menciptakan lingkungan yang tertata rapi dan terstruktur dengan aturan-aturan yang jelas dan bersifat wajib untuk dipatuhi. Orangtua yang otoriter ini cenderung kurang ahli dalam menunjukkan kasih sayangnya dan bersikap lembut.
Hal ini dapat dilihat dari caranya yang begitu agresif dalam menyelesaikan suatu masalah. Demikian juga dengan kompetensi sosial yang berkaitan erat dengan interaksi sosial yang cenderung kurang ramah dan kurang bisa menerima lingkungannya.
Sebaliknya, untuk orangtua dengan pola asuh yang cenderung menerima impuls anak atau yang disebut dengan parental responsiveness, lebih sedikit dalam hal menuntut anak. Orangtua dengan pola asuh ini cenderung menerima impuls serta tuntutan dari anak saja.
Mereka memberikan apa yang anak minta dan cenderung kurang mengontrol perilaku anaknya. Walaupun sikap atau perilaku anak mudah bergaul dan ramah, namun dengan pola asuh orangtua seperti ini anak akan kurang mengetahui dan memiliki pengetahuan terhadap perilaku yang tepat untuk situasi sosial serta kurang bertanggung jawab pada perilakunya yang salah.
Dari kedua pola asuh yang telah dijelasakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pola asuh orangtua terhadap anak haruslah seimbang atau yang lebih sering disebut dengan pola asuh otoritatif. Karena hal ini tentu akan berdampak terhadap kompetensi sosial anak dalam sosialisasinya. Tidak hanya itu, pola asuh orangtua juga diharapkan dapat membentuk karakter sang anak menjadi seseorang yang mempunyai sopan santun dan batasan-batasan sendiri.
Pola asuh orangtua haruslah dipahami dengan baik sebagai fungsi orangtua agar dapat mendidik anaknya dengan baik. Oleh karena itu, pola asuh otoriter, otoritatif, dan lainnya haruslah benar-benar dipahami oleh setiap orangtua.
Dampak Pola Asuh Orangtua Terhadap Perkembangan Kompetensi Sosial Anak
Pola asuh orangtua seperti yang sudah kita ketahui memang banyak memengaruhi perkembangan kompetensi sosial anak alam segala bidang. Baik itu dalam bidang akademik, psikososial, perilaku dan lain sebagainya. Dari beberapa penelitian mengenai dampak pola asuh orangtua terhadap kompetensi sosial anak, telah disimpulkan hal-hal berikut;
1.       Anak dan remaja yang memiliki orangtua dengan pola asuh otoritatif cenderung memiliki kompetensi sosial maupun kompetensi instrumental atau kinerja akademik lebih tinggi jika dibandingkan dengan anak dan remaja yang memiliki orangtua nonotoritatif.
2.       Anak dan remaja dengan pola asuh orangtua yang tidak peduli, memiliki kinerja buruk dalam kompetensi instrumental dan sosialnya.
3.       Anak dan remaja dengan pola asuh orangtua yang otoriter cenderung bersikap menghindari permasalahan. Akan tetapi, sikap dan keterampilan sosial yang ditunjukan oleh anak dan remaja ini menunjukkan sesuatu yang kurang baik, harga diri yang rendah, dan presentase depresi pada anak cenderung tinggi.
4.       Anak dan remaja dari orangtua yang berpola asuh permisif atau yang cenderung memanjakan biasanya akan terlibat dalam perilaku yang bermasalah dan memiliki kinerja akademik kurang baik. Akan tetapi meraka ini memiliki harga diri yang tinggi serta tingkat depresi yang dimilikinya cenderung rendah.
Dari penjelasan mengenai dampak pola asuh orangtua terhadap kompetensi sosial anak dapat disimpulkan bahwa, pola asuh otoritatif memberikan keuntungan yang sangat baik untuk perkembangan kompetensi instrumental dan sosial anak. Hal ini dikarenakan penggabungan dari dimensi pola asuh parental responsiveness yang tinggi dengan pola asuh parental demandingness yang moderat dan seimbang.
Pada umumnya, parental responsiveness dapat memengaruhi dan meramalkan kompetensi sosial dan keberfungsian psikososial. Sedangkan untuk parental demandingness berkaitan erat dengan kompetensi instrumental atau kinerja akademik serta kontrol perilaku pada anak.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa peran orangtua terhadap perkembangan kompetensi sosial anak memang sangat besar. Keterkaitan peran orangtua dan tumbuh kembang anak terjalin dengan adanya pola asuh orangtua yang diberikan sejak dini.
Di dalam mengasuh atau mendidik anak, tentu tidak semua didikan orangtua berjalan dengan lancar dan baik. Akan tetapi, dapat dikatakan lebih baik lagi jika orangtua mendidik anaknya dengan pola asuh yang otoritatif daripada pola asuh orangtua lainnya. Semoga Anda dapat menjadi orangtua yang bijak.


Terima kasih..

jaringan sosial


Jaringan Sosial
Dengan banyaknya kemajuan yang terjadi di dunia teknologi informasi dan telekomunikasi, tentu banyak dari kita sering terkecoh dengan apa yang dimaksud dengan jaringan sosial dan jejaring sosial. Keduanya memang merupakan hal yang tampak yang sama, akan tetapi pengertian dan penjelasan dari kedua hal tersebut merupakan hal yang berbeda.
Pentingnya Jaringan Sosial
Jejaring sosial sering diartikan sebagai sebah komunitas internet yang saat ini banyak sekali ragamnya. Misalnya saja Facebook, twitter, dan lain sebagainya.
Dari wacana di atas, jaringan tentu merupakan sebuah hal yang tidak banyak orang mengenalnya. Pada dasarnya jaringan dan jejaring sosial merupakan hal yang sama, keduanya memuat sebuah interaksi yang terjadi antarsesama. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan jaringan sosial tersebut? Dalam pembahasan kali ini, bahasan pembahasan mengenai jaringan sosial kita mulai dengan membahas dari akar jaringan tersebut berlangsung.
Jaringan sosial merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Seperti yang sudah diketahui, kehidupan bermasyarakat dunia tidak terlepas dari komunikasi sosial yang secara terus-menerus terjadi dan rutin dilakukan dalam menjalani hidup ini. Hal ini memng menjadi suatu dasar bahwa manusia memang merupakan mahkluk sosial yang selalu hidup berdampingan satu sama lainnya.
Seperti yang dikatakan oleh Gonzales dalam Jahi pada1993, komunikasi dalam suatu sosialisasi merupakan sebuah transfer berupa informasi yang dikirim oleh seorang pengirim kepada penerima yang banyak dilakuakn oleh manusia pada umumnya. Namun, dengan banyakya komunikasi yang bisa terjalin dalam ruang lingkup sosial, seringkali komunikasi disebut juga sebagai sumber atau bahkan berbagai informasi yang bisa kita dapatkan setiap saat.
Hal tersebut tentu dapat dihubungkan dengan jejaring sosial, karena di sana tukar-menukar informasi dan lain sebagainya dilakukan dengan cara berkomunikasi melalui jaringan internet yang bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Beralihnya suatu tujuan atau fungsi dari komunikasi sosial ini tentu berdampak pada sebuah perubahan mengenai fungsi dari komunikasi tersebut.
Perubahan ini membawa Anda kepada pemusatan yang terjadi pada sebuah hal yang disebut dengan komunikasi sosial. Setiap individu harusnya berada dalam lingkungan langsung atau berada dalam sebuah topik tertentu yang di dalamnya bisa saja dapat mengembangkan suatu hubungan pergaulan di antara individu tersebut.
Dari sini, bisa dipahami bahwa setiap komunikasi dalam jaringan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat merupakan hal yang penting adanya. Selain untuk meningkatkan berbagai macam informasi yang dapat dikirim dan diterima oleh setiap individu, komunikasi juga dapat menunjukan individu-individu ini terdapat dalam lingkaran pergaulan, sebuah lingkaran pergaulan yang akan membahas mengenai toipk-topik tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa Anda haruslah mengetahui cara bagaimana untuk bisa memahami dan mengerti elemen dari komunikasi yang terjadi di antara individu dan individu lainnya. Terdapat berbagai macam cara, untuk memahami indikator komunikasi tersebut, adalah:
1. Isi dan Sumber
Isi dan sumber yang ditunjukan dari apa yang menjadi sebuah informasi tersebut dan juga siapa dan mengapa hal tersebut dapat menjadi sebuah pengembangan potensi dari seseorang. Siapa yang terdapat dalam hal ini ialah lebih kepada suatu petunjuk, petunjuk bahwa hal tersebut menggambarkan tentang posisi yang bersangkutan atau struktur masyarakat setempat.
Hal ini mengartikan, bahwa sebagai setiap individu yang berada di lingkungan tersebut,tentulah harus mengetahui posisi dan bagaimana proses penerimaan individu lainnya. Agar hal ini dapat berjalan dengan baik dalam lingkungan bermasyarakat tersebut. Hal ini dikarenakan siapa di sini berarti mempertanyakan tentang posisi yang menunjuk seorang individu tadi.
2. Komunikasi
Jenis saluran komunikasi merupakan sebuah indikator dimana hal tersebut dapat kita lihat dari jumlah institusi sosial. Jumlah institusi sosial ini terhitung dari institusi sosial formal maupun non formal yang terjadi dalam suatu organisasi dan efektivitas fungsional.
3. Khalayak atau Kalangan Umum
Sebuah elemen dari komunikasi ini memang sangat penting adanya yaitu tipologi khalayak yang menggambarkan mengenai karakteristik demografi yang terjadi dalam setiap lingkungan bermasyarakat tersebut. Dalam segi elemen komunikasi ini, khalayak atau individu yang berperan dalam komunikasi sosial dilihat dari karakteristik berdasarkan status, ekonomi dan juga sosial yang berkembang dalam satu lingkungan masyarkata tersebut.
Pada satu kelompok yang memiliki tingkat status, ekonomi, dan sosialnya tinggi, cenderung lebih selektif dalam menerima setiap informasi yang ia dapatkan dari komunikasi sosial yang terjadi dalam jaringan sosial tersebut.
Akan tetapi, hal tersebut berbanding terbalik terhadap apa yang terjadi pada tingkat status, ekonomi dan sosial yang rendah. Pada kelompok tersebut cenderung dapat dengan mudah menerima informasi yang ada dan dapat dikatakan juga lebih apatis terhadap informasi yang ia dapatkan tersebut.
Ketika jaringan sosial yang berfokus pada sebuah hubungan dalam sistem sosial, hubungan ini lebih bisa kita katakan sebagai analisis jaringan komunikasi dalam lingkungan bermasyarakat. Analisis ini tidak hanya digunakan untuk mengetahui karakter dari setiap individu atau sebagai petunjuk dalam sebuah elemen komunikasi, melainkan juga sebagai langkah untuk mengetahui keanggotaan dari sebuah jaringan sosial tersebut.
Tidak hanya itu, dengan adanya analisis komunikasi sosial ini juga dapat membantu dalam menentukan arah hubungan, keterbukaan dalam mengeluarkan pendapat, jaringan komunikasi setiap individu, hingga pada sebuah keakraban atau sebuah keterikatan yang terjalin sesama individu dalam jaringan komunikasi sosial tersebut.
Pengertian dari jaringan sosial sendiri adalah sebuah jaringan yang di dalamnya terdapat sebuah hubungan sosial yang terjadi dalam lingkungan bermasyarakat. Jaringan ini merupakan sebuah relasi dan hubungan sosial yang terjalin, yang oleh masyarakat sendiri bisa diamati secara keseluruhan. Misalnya saja jaringan sosial yang terjadi dalam sebuah kelompok masyarkat yang berada di desa.
Terdapat beberapa hubungan di dalam kelompok masyarakat desa tersebut yaitu antara pemimpin desa dengan masyarakat, dan juga terdapat komunikasi yang terjadi di kalangan masyarakat desa pada umumnya. Hubungan-hubungan sosial tersebut terjadi di beberapa bidang kehidupan seperti kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya.
Relasi dan hubungan sosial ini merupakan sebuah gambaran bahwa hal tersebut menunjukkan sebuah hubungan antara status-status dan peran-peran yang terdapat dalam lingkungan masyarakat tersebut. Bisa dikatakan, jaringan sosial yang terjadi pada masyarakat yang hidup diperumahan atau pemukiman, misalnya di suatu kompleks, lebih terlihat rumit jika dibandingkan dengan masyarakat sederhana atau masyarakat primitif sekalipun.
Menurut seorang sosialis yaitu Wright, kajian komunikasi dapat dikatakan lebih mengarahkan kepada pola-pola yang memengaruhinya. Pola-pola pengaruhnya ini adalah siapa saja yang menjadi seorang yang berpengaruh terhadap lingkungannya dan bagaimana cara penyebaran informasi melalui komunikasi ini berjalan dan menyebar ke lingkungan masyarakat tersebut.
Hal ini kemudian menunjukan kepada kita mengenai jaringan komunikasi yang berhubungan dengan ketokohan atau kepada kepala masyarakat dari desa atau lingkungan masyarakat tersebut. Untuk penyebutan sebuah tokoh ini tentu bergantung kepada status tokoh yang dijadikan sebagai orang berpengaruh di wilayah tersebut. Hal ini dikarenakan status merupakan bagian dari hal yang tidak bisa dilepaskan dengan pengaruh dan stabilitas masyarakat setempat terhadap sumber informasi dan segala aspek yang terjadi di dalamnya.


Demikianlah pembahasan mengenai jaringan sosial dalam lingkungan bermasyarakat. Semoga bermanfaat!

interaksi sosial


Interaksi Sosial
 Interaksi soial mencoba menggali antara satu individu kepada individu lainnya, suatu kerangka yang kejujuran dan pilihan adalah menu utamanya.
Pada interaksi sosial orang tengah belajar untuk memosisikan diri, mencoba untuk mengenali kehandalan dirinya, dan juga mencoba mengenali identitas dirinya di mata orang lain.

Ahli semacam G.H. Mead telah memberikan semacam kuliah hebat kepada dunia penelitian sosial mengenai temperamen manusia, mengatasi kebohongan, mencoba mengenali pola kejujuran, dan bahkan mencoba mengenali bakat, serta pengetahuan baru dengan jalan memahami interaksi sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok yang di namakan dengan interaksionisme simbolik.
Yang tidak atau kurang dari penelitian Mead atau belakangan Herbert Blummer, adalah sisi deseptis dari individu dan kelompok. Tentu saja bila interaksi sosial itu mengarah pada sisi saling membuka diri, saling memberikan banyak hal penuh keterbukaan dan kejujuran, maka simbol-simbol yang ‘seharusnya’ yang bermakna denotatif yang bisa terjalin, sehingga muncul pengertian serta saling memosisikan diri antara satu dengan yang lainnya.
Lalu bagaimana halnya bila manusia atau individu melakukan negosiasi struktural satu dengan yang lainnya. Mencoba menuturkan pengalaman yang mendrive orang agar percaya sepenuhnya meyakini, hingga orang atau suatu kelompok menjadi solid dan terdorong mendukung gagasan si individu. Itulah yang dinamakan interaksi sosial berdasarkan mitos simbolik.
Manusia dipersenjatai dengan bahasa, dan kebanyakan bahasa adalah bersifat konotatif dan mitos, bersifat makna yang sementara, manusia memainkan mitos-mitos demi keuntungan ekonomisnya. Dan manusia melakukan itu dengan menggunakan identitas sosialnya, bukan identitas riilnya, dalam mencapai tujuan itu, yaitu untuk melakukan interaksi sosial.
Sebelum Interaksi Sosial, Ada Interaksi Inner Self
Identitas kedua atau yang kenal sebagai identitas sosial adalah nama, sosok dengan nama yang diberikan oleh orang banyak, semacam julukan, atau nickname yang diberikan kepada seseorang, termasuk nama dari orang tua.
Padahal sejatinya, ketika seorang manusia tumbuh dia tidak lagi mau menjabat sosok yang dikenali orang kepadanya, dia rebel, dia mencoba berontak lantas mencari tahu siapa dirinya sebenarnya, siapa namanya yang sebenarnya. Yang tidak perlu bernegosiasi dengan orang. Proses di bawah ini menggambarkan apa yang tengah terjadi ketika manusia mendapatkan identitas, bukan dari interaksi sosial, melainkan proses inner self.
Interaksi sosial dalam konteks film Matrix. Di dalamnya terdapat tokoh protagonis bernama Neo – yang merupakan nama lain dari nama sosial bernama Mr. Anderson. Neo adalah nama avatar dari John Anderson. Nama ‘inner self’ seorang John Anderson. Nama Neo, kelak berkenalan dengan nama Morpheus, atau nama Triniti. Semua adalah nama yang diciptakan oleh masing-masing karakter dan bermakna pemberontakan satu dengan yang lainnya.
Mereka memberontak terhadap struktur sosial yang ada yang lebih mengajukan nama pribadi yang lepas dari nama penamaan orang tua. Mereka tengah melipatgandakan diri, sebagai buah dari interaksi sosial. Karena merasa tidak nyaman dengan nama sematan orang tuanya. Tidak nyaman dan sama sekali tidak dirasakan dan dipikirkan olehnya.
Baginya nama sosial hanyalah untuk dipakai dalam saluran resmi dan formal. Sementara itu bagi yang ingin mengenal dekat dirinya, ingin masuk ke dalam hatinya, harus menggunakan nama inner selfnya. Ya manusia tengah melipatgandakan diri. Melipatgandakan diri tanpa kehadiran aksi sosial dirinya. Dan itu terbentuk dalam alam kesadaran ketika melakukan interaksi sosial.
Melalui proses-proses yang dijelaskan dalam teori-teori Freud sebagai motif pengalihan. Dalam diri manusia pada akhirnya akan terbentuk proses intrakomunikasi, yang sering disebut sebagai refleksi. Proses ini juga menjadi bagian dari interaksi sosial.
Interaksi Sosial Bukan Diri Sosial yang Murni
Mengulang pernyataan di atas. Jika proses interaksi sosial itu refleksi dijelaskan sebagai perumusan persepsi, intuisi, sensor inderawi, bahkan sampai kepada isi dari melamun, maka sebenarnya proses itu ditujukan kepada diri yang lain, dan bukan diri sosial? Seperti : “Aku takut”, “Mereka tidak suka aku”, “Apa yang mereka pikirkan? ” Semua kata-kata tersebut kita ucapkan kepada identitas asli dalam dirinya.
Dalam Communication: The Social Matrix of Psychiatry, Jurgen Ruesch dan Gregory Bateson menyatakan bahwa intrapersonal communication tidak lebih sebagai kasus spesial tentang interpersonal communication, dalam artian "dialog yang mendasari semua perwacanaan." Artinya secara sederhana saja bahwa proses intra sosial dalam interaksi sosial mendasari proses intersosial.
Proses inner self mendasari adanya interaksi sosial. Dan pada interaksi sosial yang akan selalu tampak dari Anda adalah manusia deceptis, manusia penuh hati-hati dan rasa curiga pada sesamanya. Namun itu wajar saja, karena selalu ada waktu dalam interaksi sosial masing-masing pihak akan masuk kepada proses penilaian antara sisi formal seseorang dengan sisi intimnya.
Sisi formal seseorang yang ternyata ada seorang pria gagah di satu sisi suaranya berat dan kuat, dan dia petinju hebat, mantan preman, dan bernama sangat macho. Namun ternyata, kepribadiannya berubah ketika ia berada di rumah, di lingkungan yang lebih kecil. Itu merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang dilakukannya, agar kehidupan sosialnya berjaln seimbang.
Interaksi Sosial Menghasilkan Habitus
Interaksi sosial sebagaimana yang tergambarkan dalam wacana Mead tentang interaksi simbolik mendapatkan acuan pula, dari bidang pemikiran lainnya, semacam strukturalis fungsionalisme, hingga teori Marx di Eropa. Wacananya bahkan berkembang dari proses individu kepada proses yang lebih besar lagi, yakni habitus.
Suatu kondisi yang menggambarkan keadaan individu yang benar-benar sudah menjadi bagian dari proyeksi budayanya sendiri. Dia tidak asli lagi, semua alam pemikirannya adalah hasil dari fabrifikasi kultur yang menaunginya dan memang kultur itu sedemikian kuat dan hebat, habitus adalah masyakarat yang terdidik, namun bukan terdidik secara birokratis di lembaga pendidikan namun terdidik secara sosial. Habitus lahir dari proses interaksi sosial.
Perlawanan para habitus ini muncul ketika suatu kultur birokrasi yang sama sekali berbeda dan buruk di mata dirinya hendak membawakan semacam pemahaman baru. Pemahaman birokratis vs pemahaman tradisionalis. Kadang, interaksi sosial juga melahirkan sebuah pergolakan antara apa yang tengah terjadi di masyarakat dan di dalam diri kita.
Pierre Bourdieu memasarkan gagasan Marcell Mau: Habitus. Seolah kompromis, habitus atau disposisi mental sosial dibentuk oleh seseorang di dalam identitas sosialnya untuk bernegosiasi dengan kondisi obyektif yang terjadi. Dengan kata lain, untuk kegiatan interaksi sosialnya.
Dalam Habitus, perangai dibentuk dari pelaziman individu bukan negara. Artinya, proses struktur sosial sebenarnya terbentuk dari pengalaman pribadi serta interaksi sosial dan bukan pendidikan lewat kurikulum sekolah, yang membentuk jiwa dan mental anak-anak adalah guru dan bukan kurikulum.
Guru merupakan gerbang terakhir dari tradisionalisme manusia. Bagi Habitus, guru adalah sang pemimpin besar, dan bukan politisi. Masyarakat terdidik sebagai cermin munculnya kelompok habitus ini tumbuh dari interaksi sosial yang sehat. Mereka saling bicara bertukar saling membagi pengalaman secara egaliter dalam piranti yang tidak disensor.
Maka tidak heran Habitus memberontak terhadap birokrasi yang melupakan sisi sosialis, terhadap interaksi sosial yang dipaksakan oleh kebutuhan, karena setiap orang berhak memiliki prinsip nilai atas dasar kebersamaan dan jangan sampai didiktekan oleh negara. Dari titik ini barulah jelas masa lalu yang ditandai oleh kekuasaan negara kepada rakyatnya boleh dilupakan.

Tidak heran Bourdieu menjadi pahlawan publik, dan Perancis. Negara tempatnya bernaung berada dalam bahaya ledakan sosial setiap saatnya. Tidak ada disiplin, interaksi sosial, dan humanisme menang terang-terangan. Barangkali habituslah warga negara ideal dan suportif pada situasi negara yang dipimpin oleh mereka yang bukan penipu dan senang memaksakan kehendak.

terima kasih ........

integrasi sosial


Integrasi Sosial
Dalam kemajemukan yang terdapat di Negara kita Republik Indonesia tercinta, integrasi sosial kerap kali dilupakan. Padahal integrasi merupakan salah satu, bahkan mungkin satu-satunya solusi, bagi masalah-masalah yang terjadi akibat kemajemukan tersebut.
Integrasi sosial termasuk ke dalam usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan perselisihan, serta mempersatukan perbedaan melalui proses-proses yang adil. Integrasi sosial lahir dari kesadaran kita akan pentingnya berbangsa yang baik.
Indonesia sebagai negara yang majemuk, memiliki landasan-landasan yang cukup kuat untuk menyelesaikan permasalahan. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia sebetulnya merupakan landasan idiil dan landasan konstitusional yang paling ideal. Namun sayang, kedua landasan idiil ini kini malah dipandang sebelah mata oleh hampir semua warga Negara Indonesia sebagai sarana integrasi yang utama.
Bukannya melandaskan integrasi sosial pada kedua materi ini, Pancasila dan Undang-Undang Dasar sepertinya hanya dianggap mimpi-mimpi masa lalu tentang penyelesaian masalah sang Negara merdeka baru (Indonesia pada masa itu).
Pelaksana Pancasila dan Undang-Undang pun justru, sepertinya lebih menitikberatkan segala permasalahan kemajemukkan ini pada hukum-hukum formal (diluar Pancasila dan Undang-Undang Dasar), yang notabene masih merupakan hukum turunan dari bangsa Belanda.
Bentuk hukuman tersebut diadaptasi sebagai imbas dari masa kolonialisme yang lalu, untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Hal ini dianggap kurang adaptif karena dibutuhkan pemahaman yang mendalam dari pelaksanaan integrasi ini.
Tetapi, apapun landasan hukumnya, seharusnya integrasi sosial harus tetap dilaksanakan. Setidaknya proses itu harus melalui penyadaran dari masing-masing warga negara. Sosialisasi mengenai integrasi sosial ini sebaiknya tidak hanya dilaksanakan pada ruang lingkup akademik, melainkan harus dilakukan juga dalam ruang lingkup umum. Dalam ruang-ruang masyarakat yang sama sekali awam, agar mereka memiliki kesadaran yang sama.
Mungkin inilah salah satu sebab mengapa integrasi tidak dapat direalisasikan secara sempurna karena proses sosialisasinya tidak menyeluruh. Tidak semua orang memiliki kesadaran yang sama tentang kemajemukan ini, akibatnya integrasi hanya dianggap sebagai sesuatu yang ringan. Integrasi sosial hanya serupa mimpi-mimpi idealisme para negarawan.
Mudah-mudahan pernyataan ini bukan merupakan gambaran dari keadaan nyata yang dimiliki bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mari kita membangun kesadaran bersama akan pentingnya persatuan. Dan mari agar mulai menyadari, bahwa perbedaan bukan merupakan sumber dari adanya perpecahan, melainkan merupakan sumber kekuatan dalam persatuan.

Apa Itu Integrasi Sosial?
Integrasi sosial ialah penyatuan atas unsur-unsur dalam masyarakat, termasuk di dalamnya keragaman latar belakang budaya, bahasa, pola pikir, agama, serta etnis, demi terciptanya kedamaian dan persatuan. Untuk melaksanakan proses-proses penyatuan ini, masyarakat harus memiliki kesadaran dan setidak-tidaknya kecintaan terhadap bangsanya. Hal itu dimaksudkan agar setiap orang mampu menumbuhkan rasa memiliki sebagai bangsa Indonesia.
Integrasi sosial seharusnya terus mengalami laju pertumbuhan seiring dengan berkembangnya unsur-unsur dan kepentingan masyarakat, seperti hal-hal berikut ini, kelompok sosial dengan homogenitasnya, heterogenitas kelompok-kelompok sosial dalam keberlangsungan bangsa.
Kemudian, terjadinya mobilitas secara geografis yang dilakukan oleh beberapa orang dalam ukuran yang cukup besar ke satu daerah berkembang (kota besar), efektivitas komunikasi, baik antarkelompok maupun intrakelompok masyarakat itu sendiri, yang dipengaruhi ukuran kelompok.
Yang mendukung terjadinya integrasi sosial adalah sikap toleransi antar kelompok yang berbeda, ekonomi wilayah yang konstan dan seimbang, sikap saling menghargai antar sesama anggota kelompok, adanya usaha persamaan dalam suatu kelompok, serta sikap para penguasa dan pemerintah yang terbuka kepada masyarakat.
Jadi, untuk menghimpun kesadaran tersebut, pemerintah, bahkan kita sendiri, harus mulai membina diri dan mengarahkan ke pemahaman bahwa persatuan dalam perbedaan merupakan hal yang sangat penting.
Emile Durkheim menyatakan bahwa konsensus atau kesepakatan tentang seperangkat nilai, merupakan hal-hal yang menjadi kekuatan untuk menghimpun sebuah integrasi sosial.
Kondisi-kondisi pencapaian konsensus tersebut berarti terciptanya masyarakat yang anggota-anggotanya dapat saling memahami satu sama lain. Hasil dari tercapainya konsensus tersebut, yakni rasa tentram yang merupakan salah satu pemicu integrasi.
Karel J. Veeger menyampaikan bahwa pengintegrasian adalah proses ketika individu-individu atau kelompok-kelompok melibatkan diri ke dalam masyarakat besar. Pada gilirannya, masyarakat besar menerima individu-individu dan kelompok-kelompok itu.
Oleh karena itu, yang dibutuhkan dari sebuah proses pengintegrasian adalah ketika kedua pihak atau lebih sama-sama memiliki kemampuan dan kerelaan untuk menerima nilai-nilai bersama yang telah disepakati untuk kepentingan integrasi tersebut. Dengan kata lain, dibutuhkan toleransi dari kelompok-kelompok yang ada dalam proses integrasi sosial tersebut.
Dalam usaha-usaha pengintegrasian kelompok-kelompok masyarakat, dibutuhkan keterpaduan antara motivasi, perasaan, serta beragam pemikiran dari masing-masing anggota kelompok. Jadi, sudah tentu dibutuhkan waktu yang tidak hanya sebentar untuk pencapaian keterpaduan ini.
Negotiated order ialah salah satu usaha yang dilakukan dalam pengintegrasian oleh orang dalam kelompok-kelompok sosial modern. Dalam masyarakat modern, terkadang proses integrasi tidak tertuntaskan secara sempurna karena sifat individualis para anggotanya seringkali lebih mengemuka dari pada sifat saling membutuhkan antaranggota kelompoknya. Jadi, negotiated order merupakan salah satu cara untuk pengintegrasian.
Negotiated order sendiri, berarti kesempatan-kesempatan yang merupakan suatu keadaan di mana kemungkinan-kemungkinan untuk bekerja sama antaranggota kelompok yang satu dengan anggota kelompok yang lain berlangsung. Kesempatan baik ini dikembangkan sebagai siasat untuk menyenangkan satu sama lain, hingga kebaikan-kebaikan tersebut secara tidak langsung melahirkan sebuah kompromi.
Integrasi dalam Sistem Sosial
Sistem sosial ialah sebuah sistem yang terbentuk dalam masyarakat, terdiri dari sekumpulan hubungan timbal balik yang tidak selalu bersifat konstan. Dari sifat-sifat yang tidak selalu konstan itulah, maka sistem sosial kerap kali menjadi salah satu sumber ketimpangan.
Sistem sosial juga berisikan tentang kesepakatan-kesepakatan, serta unsur-unsur masyarakat yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, menurut Herbert Spencer, sistem sosial, seperti organisma dalam tubuh manusia yang saling ketergantungan.
Karena sifatnya seperti sebuah organisma, jika salah satu sistem sosial tidak berjalan secara sempurna, maka bagian lain dari sistem sosial tersebut akan pula berjalan tak sempurna. Unsur-unsur dalam sistem sosial adalah susunan dari kesepakatan-kesepakatan. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan masyarakat, maka seperti yang telah dijelaskan, bahwa kesepakatan bukan merupakan sesuatu yang dapat selalu konstan.
Ketika dalam keadaan tidak konstan inilah, kesepakatan-kesepakatan yang menjadi tidak sama akan menjadi sebuah permasalahan baru. Anggota masyarakat yang masih setia dengan sistem sosial yang ada, akan berselisih dengan anggota masyarakat yang telah berada di luar kesepakatan. Kira-kira permasalahan seperti itulah yang akan terjadi, jika dijelaskan secara sederhana.
Jangan lupa juga bahwa sistem sosial dipengaruhi pula oleh dinamika masyarakat yang ada di dalam budaya di mana sistem sosial itu berlangsung. Masyarakat sebagai sebuah sistem sosial merupakan bagian dari berbagai macam subsistem dengan fakta-fakta yang dimiliki, serta fenomena sosial yang ada. Kemudian, integrasi akan tercapai, jika ada proses-proses sosial terpadu yang menjadikan sistem sosial sebagai suatu sistem yang dinamis.
Bentuk-Bentuk Integrasi Sosial
Dalam penanganan sebuah konflik, integrasi merupakan jalan terakhir yang paling diinginkan sebagai sebuah penyelesaian. Karena integrasi diraih bukan karena keterpaksaan, melainkan karena kesadaran dari kesepakatan-kesepakatan yang dibangun dalam sebuah sistem.
Meski kesepakatan-kesepakatan yang diraih tidak selalu bersifat konstan, tapi dapat selalu diusahakan agar kesepakatan tersebut selalu menjadi hal yang utama dalam masyarakat. Jadi, kesepakatan tersebut harus dibuat senyaman mungkin untuk selalu berjalan mulus di masyarakat. Emile Durkheim mengemukakan bahwa integrasi terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1. Integrasi Tinggi
Integrasi tinggi ini lahir dari kelompok-kelompok yang memiliki ikatan kuat dan solidaritas yang tinggi dari setiap anggotanya. Kelompok yang memiliki tingkat integrasi yang tinggi tidak segan-segan untuk membela anggota kelompoknya yang sedang berada dalam masalah atau pun konflik. Bahkan tanpa memedulikan risiko yang akan menimpa kelompoknya di kemudian hari. Yang termasuk ke dalam kelompok dengan kategori ini, misalnya komunitas adat dan kelompok agama.
2. Integrasi Rendah
Integrasi yang rendah biasanya dilahirkan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai keterikatan yang lemah. Kelompok ini lebih sering disisipi oleh kepentingan yang bersifat individualis dan hanya akan dipersatukan oleh kasus-kasus mendesak yang sekiranya akan membutuhkan kuantitas suara yang maksimal.
Jadi, resiko yang terjadi pada anggotanya bukan merupakan urusan bersama. Yang termasuk ke dalam kelompok dengan kategori ini, misalnya organisasi pekerja atau organisasi pedagang.
Selain itu, sebagai masyarakat yang majemuk, maka kesadaran kita sebagai anggota masyarakat harus dibangun, bahwa sistem sosial yang ada di dalam kehidupan masyarakat dibangun untuk kepentingan bersama.
Jika ada salah satunya saja yang berlangsung kurang efektif, jangan jadikan hal tersebut menjadi sebuah hambatan yang dipertentangkan. Melainkan sebagai sebuah pemicu diskusi antar kelompok, sehingga dicapai kesepakatan yang baru.

Sekian sekelumit pemaparan tentang integrasi sosial, mudah-mudahan dapat mencerahkan pemikiran pembaca bahwa perbedaan harus dipersatukan.

terima kasih......

Selasa, 18 November 2014

hubungan sosial


Hubungan Sosial


Ilustrasi hubungan sosial
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Untuk itu, sebagai makhluk yang membutuhkan pertolongan orang lain, manusia butuh belajar mengenai hubungan sosial dengan lingkungan di sekitarnya. Kita sebagai manusia harus mengerti bagaimana cara berinteraksi dengan masyarakat sekitar, mengaplikasikan tata krama, hingga cara menyikapi perbedaan pandangan dengan orang lain.
Hal-hal tersebut pada dasarnya bukanlah sebuah masalah besar bagi kita yang telah memiliki naluri untuk melakukan hubungan sosial dengan orang lain. Namun kita tetap harus mengasah kesadaran diri kita masing-masing yang berpotensi lupa pada banyak hal. Ya, hal itu sesuai dengan kaidah “manusia adalah tempatnya alpa dan salah

Hubungan Sosial dengan Teman
Teman adalah sosok yang menjadi pengganti keluarga di saat Anda jauh dari rangkulan keluarga. Mereka menjadi figur yang selalu menemani kita di saat kita lapang maupun di saat kita kesulitan. Mereka adalah figur yang tidak mudah tersinggung apabila kita menghanturkan ribuan canda kepada mereka, meskipun terkadang candaan kita agak melampaui batas.
Namun, di samping semua itu, teman akan datang di saat kita sedang berada di titik lemah. Entah di saat Anda kekurangan uang, di saat Anda dicampakkan kekasih, atau bahkan di saat Anda terjatuh sakit. Teman Anda akan hadir untuk Anda.
Oleh karena jasa teman yang begitu besar, kita harus tahu bagaimana caranya kita berinteraksi dengan mereka secara baik. Membangun hubungan sosial dengan teman dapat diawali dengan memperbanyak komunikasi dengan mereka sebagaimana kita memperbanyak komunikasi dengan anggota keluarga kita.
Bahkan, di dalam permainan The Sims yang begitu terkenal dikatakan bahwa teman sama halnya dengan tanaman. Jika kita tidak menyiraminya maka mereka akan mati. Begitupun teman, hubungan sosial yang selama ini kita coba bangun akan mati secara perlahan-lahan jika kita tidak ‘menyirami’ hubungan itu dengan komunikasi yang baik.
Dari komunikasi yang rutin dengan teman, tidak menutup kemungkinan kita akan menemukan konflik di dalam hubungan pertemanan kita. Sebagai contoh dalam organisasi, teman dapat menjadi lawan besar karena perbedaan prinsip terhadap hal-hal tertentu. Namun, terlepas dari semua itu, kita tidak boleh menjadikan perbedaan tersebut sebagai dinding yang akhirnya memperburuk hubungan sosial kita dengan teman.
Kita harus menyadari bahwa setiap manusia diberikan kelebihan akal oleh Tuhan. Oleh karena kelebihan tersebut, maka wajar jika terjadi perbedaan prinsip dengan teman kita. Hal yang lebih tepat untuk dilakukan adalah dengan mencari jalan tengah dari dua prinsip yang saling berbenturan. Selama hal tersebut bukan surga dan neraka, pasti ada jalan tengah yang dapat diambil sebagai solusi untuk menyelesaikan perbedaan prinsip tersebut dengan teman.
Hal yang terakhir adalah rasa pengertian. Teman yang baik tidak akan ‘memakan’ temannya sendiri. Teman tidak akan mengkhianati hubungan pertemanan yang selama ini telah dijalin. Jika Anda dan teman Anda mencintai satu wanita yang sama, maka teman Anda tidak akan melangkahi Anda.
Justru ia akan memberikan kemudahan bagi Anda untuk mendapatkan hati wanita tersebut. Teman yang pengertian akan memahami bagaimana perasaan Anda, sehingga mereka akan sangat menjaga agar hubungan pertemanan Anda dengannya tidak akan luntur.
Hubungan Sosial dengan Keluarga
Keluarga adalah tempat pertama kita mencurahkan isi hati, tempat pertama kita bersandar, dan tempat pertama kita menangis. Keluarga telah menjadi sebuah organisasi yang menaungi kita sejak kecil. Kita ada dan menjadi dewasa adalah karena jasa keluarga, terutama orangtua. Oleh karenanya, kita tidak boleh melupakan hubungan sosial kita dengan mereka. Sebab mereka telah ada semenjak kita terlahir hingga kita tertidur di liang lahat kelak.
Menjaga hubungan sosial dengan keluarga pada dasarnya adalah hal yang mudah. Namun, bagi anak dengan orangtua, hal tersebut merupakan salah satu yang cukup menantang. Sebab, orangtua dengan anak hidup di zaman dan generasi yang berbeda, sehingga akan timbul pola pikir yang berbeda pula.
Hal ini sering menjadi racun di dalam hubungan antara seorang anak dengan orangtua. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menjadi musuh dengan orangtuanya karena perbedaan prinsip yang sangat bertolak belakang.
Sebagai anak yang baik, hendaknya kita tetap menghargai prinsip kedua orangtua kita sambil terus melakukan pendekatan secara baik-baik dengan mereka. Kita ambil contoh dalam kasus pernikahan. Banyak orangtua yang menuntut anaknya menikah pada usia 27 tahun dengan syarat memiliki rumah terlebih dahulu berdasarkan pengalaman mereka pada umumnya.
Berbeda dengan prinsip anak yang menginginkan nikah pada usia 23 tahun dengan pertimbangan agama. Kedua prinsip ini jelas berseberangan. Orangtua menghendaki kemapanan, sementara anak menghendaki kemuliaan dunia dan akhirat. Hal seperti ini jangan dijadikan sebagai sesuatu yang memicu perpecahan di dalam keluarga.
Jika kita merasa yakin dengan prinsip kita, maka kita harus melakukan pendekatan secara kreatif dengan salah satu pihak. Kita sampaikan maksud mulia kita tanpa terlihat seperti menghakimi pihak tertentu. Apalagi jika dasar kita adalah agama, tentu orangtua sekeras apapun akan luluh jika cara penyampaian kita lembut dan sesuai dengan kemampuan nalar mereka.

Hubungan Sosial dengan Masyarakat Sekitar
Masyarakat sekitar adalah figur yang menentukan jalan hidup kita juga. Tanpa adanya mereka, maka kita belum tentu menjadi kita yang sekarang. Jika tidak ada tukang sayur, maka para ibu akan kesulitan mencari bahan makanan. Jika tidak ada guru, maka kita akan terlantar dan menjadi sangat bodoh.
Jika tidak ada ulama, maka kita akan bergelimang dalam kemaksiatan. Begitulah seterusnya. Peran masyarakat bukan hanya meramaikan isi bumi, tetapi juga untuk membantu kita dalam proses pendewasaan diri. Maka dari itu, kita harus menghormati mereka dengan cara membangun hubungan sosial yang baik.
Hal pertama yang dapat dilakukan adalah mempertajam hubungan silaturami dengan para tetangga dan masyarakat sekitar walaupun hanya sedikit berbincang. Terkadang beberapa dari kita enggan untuk sekedar mengucapkan salam ketika bertemu dengan tetangga ataupun anggota masyarakat lainnya.
Hal ini akan membangun budaya acuh tak acuh. Jika memang kita termasuk orang yang pendiam, kita tidak perlu ragu untuk tersenyum atau sekedar menyapa mereka dengan sapaan yang baik. Hal kecil seperti itu sudah dapat meningkatkan perasaan positif di dalam hati orang lain.

Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW telah berpesan kepada kita,“ Janganlah kamu memandang remeh bentuk apapun dari kebaikan, meskipun kamu hanya bertemu dengan saudaramu dengan wajah manis.” (HR. Muslim)
Mengapa kita tidak boleh memandang remeh suatu kebaikan? Sebab, pada dasarnya semua kebaikan itu akan memicu hubungan sosial yang positif. Ketika seseorang tersenyum pada Anda, apa yang Anda rasakan? Sebuah hawa positif yang membuat Anda terpacu untuk tersenyum kembali kepadanya.
Hal itu sudah merupakan sebuah contoh bahwa kebaikan sekecil apapun jika dilakukan terus-menerus akan menjadi kebaikan yang besar. Coba kita bayangkan jika seorang ulama berceramah sambil cemberut? Tidak akan nikmat dipandang dan para pendengar akan merasa jenuh berada di dalam majelis tersebut.
Hal penting berikutnya adalah saling mengingatkan. Masyarakat yang lebih heterogen akan memiliki pandangan hidup yang heterogen pula. Dengan begitu, sesekali kita akan menemukan penyimpangan di dalam kegiatan mereka.
Posisi kita sebagai anggota masyarakat tersebut harus sigap dengan hal-hal yang mungkin kurang menyenangkan tersebut. Caranya, tentu kita tidak bisa menggunakan kekerasan sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah. Kekerasan justru akan membawa masalah yang lebih besar.
Kita ambil contoh mengenai kasus tetangga yang senang mabuk. Mengingatkan orang seperti ini tidak bisa dengan menggunakan kekerasan, namun harus didekati dengan pendekatan yang dapat diterima olehnya. Diskusikan persoalan dengan anggota masyarakat lain, sehingga usaha saling mengingatkan akan berjalan lebih baik dengan kuantitas orang yang banyak, tanpa mengesampingkan kualitas nasihat tentunya.

Itulah paparan seputar hubungan sosial dengan lingkungan di sekitar kita, baik itu teman, keluarga dan masyarakat sekitar. Semoga informasi ini bisa menjadikan Anda labih bijak dalam menjalani hubungan sosial.

terima kasih......

gerakan sosial


Gerakan Sosial


Gerakan sosial merupakan kegiatan sosial yang ditunjukan dengan tindakan dari kelompok informal. Kelompok ini membuat suatu wadah organisasi. Setiap anggota yang ada pada organisasi ini akan berfokus terhadap hal-hal yang berbau politik atau sosial.
Gerakan sosial adalah wujud dari tindakan yang dilakukan bersama-sama secara terus menerus dengan waktu dan agenda tertentu untuk  bisa mengubah atau mempertahankan suatu keadaan. Gerakan yang ada di masyarakat ini menggambarkan pembangunan jaringan yang baik tidak hanya pada tingkat nasional, namun juga pada tingkat lokal. Teknik yang dipakai untuk membangun jaringan tersebut, salah satunya dengan menanamkan kepercayaan pada diri masing-masing.
Pembagian Gerakan Sosial
1. Berdasarkan Ruang Lingkupnya
Berdasarkan pendapat dari para sosiolog, gerakan sosial terbagi menjadi beberapa jenis. Bila dilihat berdasarkan lingkupnya maka dibagi menjadi dua macam, yaitu gerakan reformasi dan gerakan radikal.
a. Lingkup Gerakan Reformasi
Gerakan reformasi merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk mengubah isi dari norma, terutama dalam hal hukum. Bentuk dari gerakan yang ada, yaitu berkaitan dengan serikat buruh. Tujuannya yaitu supaya ada peningkatan pada hak-hak yang dimiliki oleh para pekerja. Selain itu juga menolak atau mendukung segala perubahan yang ada.
Beberapa macam gerakan refomasi ini membuka peluang terkajinya perubahan pada norma-norma yang ada. Contohnya mengutuk proliferasi dari berbagai agama atu mengutuk adanya pornografi. Gerakan ini bukan hanya berlandaskan dengan jenis masalah yang ada melainkan juga dengan cara yang akan digunakan.
Kemungkinan dari metode pelaksanaan tersebut adalah sikap reformis non-radikal. Metode ini akan terus dipergunakan sampai dengan tercapainya tujuan tersebut. Contohnya, yaitu dalam kasus aborsi. Agar aborsi tidak terus menerus terjadi maka dibuat aturan hukum berdasarkan perundang-undangan yang ada.
b. Lingkup Gerakan Radikal
Sementara itu, bila gerakan radikal merupakan tindakan yang dilakukan supaya perubahan dalam sistem nilai segera terjadi. Perubahan yang dilakukan tidak sama dengan gerakan reformasi melainkan secara mendasar dan substansi. Misalnya, gerakan hak sipil Indonesia. Isi dari gerakan ini menuntut keadilan hukum untuk semua warga Amerika dan hak-hak sipil mereka. Unsur-unsur reformis dan radikal sangat kuat dalam gerakan ini.
Namun, Polandia mempunyai gerakan sosial sendiri yang disebut dengan solidaritas gerakan. Tindakan ini dilakukan untuk menuntut transformasi yang berawal dari tata nilai politik Stalinisme ke dalam tata nilai sistem politik demokrasi. Gerakan ini juga terjadi pada penghuni gubuk Abahlali Base Mjondolo di Afrika selatan.  Tuntutan mereka yaitu agar dapat masuk ke dalam kehidupan perhunian di kota.
2. Berdasarkan Jenis Perubahannya
Pembagian yang kedua berdasarkan jenis perubahannya ada dua macam, yaitu gerakan inovatif dan gerakan konservatif.
a. Gerakan Inovatif
Gerakan inovatif merupakan tindakan yang dilakukan untuk memberlakukan nilai-nilai, norma-norma dan gerakan advokasi yang sifatnya tidak umum. Hal ini dilakukan sebagai gerakan inovasi yang menjamin keamanan teknologi.
b. Gerakan Konservatif
Sementara itu, gerakan konservatif merupakan tindakan yang dilakukan atas dasar menjaga nilai-nilai dan norma-norma yang ada. Contohnya yaitu pada saat abad ke-19 tindakan yang ada yaitu pertentangan terhadap penyebaran makanan yang transgenic. Bentuk gerakan tersebut merupakan wujud perlawanan secara spesifik dari perubahan teknologi.
3. Berdasarkan Faktornya
Berdasarkan faktornya gerakan sosial dibagai menjadi tiga, yakni gerakan identitas atau memperjuangkan, gerakan kemunculan aktor, dan gerakan demokrasi.
Gerakan yang pertama yaitu identitas atau memperjuangkan. Contohnya tindakan yang menjunjung tinggi perempuan, partisipasi politik, lingkungan dan masih banyak yang lainnya. Hal ini dilakukan agar tujuan yang diharapkan bisa tercapai.
Kemudian kesesuaian identitas yang ada tersebut ditujukannya. Bila tindakan itu ditujukan untuk negara maka disebut dengan gerakan politik. Hal ini didasari dengan tindakan yang dilakukan untuk merubah kebijakan yang telah ada.
Lalu faktor yang kedua yaitu akan muncul actor yang membantu untuk memperjuangkan tindakan dari gerakan tersebut. Actor yang muncul bisa berupa kelompok maupun seorang tokoh saja.
Dan faktor yang terakhir yaitu organisasi. Berbagai bentuk gerakan mulai bermunculan. Hal ini disebabkan oleh keresahan yang terjadi dalam berbagai bidang. Mulai dari Sosial, Pendidikan, Budaya, Politik, Kesehatan, Ekonomi dan sebagainya.
Dinamika Gerakan Sosial
Tindakan sosial sifatnya tidak terus menerus. Hal ini dikarenakan mempunyai berbagai macam siklus hidup. Siklus tersebut, yakni diciptakan, lalu tumbuh, pencapaian yang disertai kegagalan untuk menuju sasaran akhir, terkooptasi serta kehilangan rasa semangat.
Globalisasi serta teknologi mulai ada pada abad ke-21 membawa banyak perubahan. Perubahan secara drastis terlihat dari gaya hidup, transaksi, budaya dan pola pikir yang ada di masyarakat. Evolusi bukan hanya terjadi pada dunia, melainkan juga pada gerakannya. Tindakan sosial kini hanya memusatkan diri pada kasus tertentu saja dan perlahan meninggalkan organisasi yang sifatnya formal.
Internet, khususnya social media atau jejaring sosial adalah faktor utama dalam pergerakan yang ada di dunia. Akses dari internet yang tidak ada batasnya membuat mudah dalam berkomunikasi. Selain itu berbagai informasi serta pengetahuan bisa di dapat secara bebas didunia maya.
Ekspresi diri setiap individu bisa terlampiaskan dengan merajalelanya demam terhadap jejaring sosial ini. Bahkan, sekarang individu di belahan dunia manapun bisa bersatu di dalam jejaring sosial untuk saling bertukar pendapat satu sama lain.
Saat ini evolusi social movement sedang terjadi. Kendaraan apresiasi dari tindakan sosial yang berupa organisasi informal kini sudah mulai ditinggalkan. Saat ini, masyarkat lebih memilih untuk bergabung dalam wadah yang bersifat informal. Di dalam organisasi ini mereka mempunyai kebebasan yang luas. Dulu, kepentingan dari kelompok merupakan faktor utama, namun kini sudah tergeser dengan sikap objektif yang ada pada masyarakat.
Namun, mudahnya tergabung dalam suatu kelompok juga mendatangkan efek yang negatif, yakni dengan munculnya click Activism. Dukungan serta tindakan secara langsung bisa diwujudkan hanya dengan melakukan klik terhadap seseorang. Sedangkan dalam kenyataannya yang dibutuhkan adalah gerakan nyata. Dengan gerakan nyata maka tujuan agar segera tercapai. Contohnya saja di Facebook maupun Twitter. Dukungan dapat diberikan oleh ratusan orang sebagai tindakan sosial hanya dengan media dunia maya.
Diharapkan dengan tingginya akses informasi dan teknologi menjauhkan kita dari seorang clik Activist. Karena yang dibutuhkan bukan hanya gerkan di dunia maya melainkan gerakan yang dilakukan secara nyata. Hal ini bisa diawali dari organisasi maupun kelompok social movement sendiri. Berbagai program yang direncanakan jangan hanya sebatas di dunia maya saja. Contohnya dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan off air. Misalnya, kegiatan sosial.
Perkembangan yang sangat pesat mengenai tindakan sosial juga terlihat di Indonesia. Kejadian ini pada kenyataannya ada dalam sejarah Bangsa Indonesia. Salah satu contoh yang bisa kita ambil yaitu H. Samanhudi yang membentuk organisasi SI (Sarekat islam). Pada awal pembentukannya ditujukan untuk langkah pengamanan pedagang-pedagang Islam yang ada di sekitar lingkungan rumah H. Samanhudi.
Lalu, contoh selanjutnya yaitu K.H. Ahmad Sahlan yang membentuk organisasi Muhammadiyah. Tujuan dari organisasi tersebut adalah mengatasi berbagai masalah sosial yang ada dalam bidang pendidikan. Perkembangan pesat yang ada di Indonesia ini dilatarbelakangi oleh keinginan yang besar untuk menghasilkan berbagai perubahan ke arah yang lebih baik.
Tindakan sosial saat ini merupakan solusi yang digunakan untuk menghasilkan perubahan untuk Bangsa Indonesia. Tindakan sosial ini merupakan wujud dari arti kepemimpinan. Hal ini dikarenakan tindakan sosial yang dilakukan akan memberikan pengaruh kepada orang lain melalui kebaikan. Kebaikan yang ada akan menghasilkan berbagai macam inspirasi kebaikan yang lainnya.

Sekarang kita mempunyai keyakinan bahwa pengaruh yang ada di tingkat lokal atau tingkat nasional bisa terwujud karena adanya gerakan sosial. Mari kita lakukan gerakan sosial untuk menciptakan perubahan yang akan bermanfaat bagi banyak orang.

terima kasih

fenomena sosial

Fenomena Sosial


Kita tentu sering mendengar istilah fenomena sosial. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suatu gejala tidak biasa yang terjadi di tengah masyarakat. Selain itu, fenomena sosial dalam ilmu sosial juga sering dikaitkan dengan lahirnya sebuah teori sosial. Teori merupakan kerangka berpikir yang dituangkan secara ilmiah yang menunjukkan suatu fenomena dan dapat digunakan untuk menunjukkan fenomena lainnya.
Fenomena sosial lahir dari perilaku manusia dalam kehidupan sosialnya dan membentuk suatu gejala-gejala sosial menjadi sebuah fakta atau kondisi tertentu. Pembentukan suatu fenomena ini membutuhkan waktu serta gejala yang berulang-ulang dan diikuti oleh banyak orang sehingga menjadi perhatian masyarakat. Manusia sebagai subyek munculnya fenomena ini merupakan makhluk dengan sifat yang berbeda-beda, tetapi cenderung kepada hal-hal yang menuju pada suatu kesamaan.
Sifat manusia yang demikian, menjadikan manusia gemar untuk meniru. Oleh karena itu, ketika suatu gejala sosial ditiru oleh beberapa kelompok manusia, terjadi berulang-ulang, dan semakin banyak, maka gejala tersebut akan menjadi suatu fenomena sosial.
Misalnya saja, suatu gejala sosial tentang kegemaran anak remaja terhadap grup musik Korea yang dikenal dengan K-Pop. Semakin banyak orang yang meniru untuk menyukai K-Pop dan hal ini berlangsung dalam kurun waktu tertentu, maka kegemaran remaja terhadap K-Pop menjadi sebuah fenomena bersifat sosial.
Memandang Geng Motor sebagai Fenomena Sosial
Akhir-akhir ini, masyarakat dicemaskan oleh fenomena keberadaan geng motor. Kecemasan ini dipicu oleh beberapa tindakan pidana yang melibatkan geng motor sebagai pelakunya. Geng motor merupakan sebutan bagi kelompok pengendara sepeda motor yang dinilai memiliki tindakan mengganggu keamanan dan ketenteraman masyarakat.
Keberadaan geng motor sebagai fenomena yang bersifat sosial dapat kita lihat dari banyaknya spanduk atau media informasi massa yang menyatakan keberatan dan menolak keberadaan geng motor di suatu lingkungan masyarakat.
Kecemasan dan kekhawatiran masyarakat terhadap geng motor adalah tindakannya yang anarkis hingga dapat menghilangkan nyawa orang lain. Kecemasan tersebut membesar ketika beberapa berita mengenai pembunuhan melibatkan geng motor sebagai pelakunya.
Dalam melakukan aksi kriminalnya, geng motor kerap menggunakan sepeda motor dan mengambil sepeda motor milik korbannya. Meski demikian, tindakan geng motor menjadi berbeda dengan perampokan motor biasa.
Hal ini dikarenakan tindakan kriminal yang dilakukan geng motor tidak hanya itu. Geng motor kerap ‘berperang’ dengan geng motor lainnya. ‘Perang’ yang mereka lakukan terkadang didasari oleh hal-hal kecil yang tidak layak untuk menjadi sebuah motif pembunuhan. Persaingan yang terjadi antaranggota geng motor inilah yang menjadi titik awal perilaku kriminal yang dilakukan oleh geng motor.
Selain tindak kriminal yang dilakukan oleh geng motor, hal lain yang menjadi perhatian dalam fenomena ini adalah anggota geng motor diikuti oleh remaja-remaja usia sekolah. Geng motor ini biasanya beranggotakan anak-anak usia SMP dan SMA, usia yang seharusnya digunakan untuk belajar dengan giat dan menggali potensi diri yang positif dan bermanfaat.
Secara psikologis, anak remaja usia SMP dan SMA memang usia seorang remaja sedang mencari jati diri, merasakan dirinya beranjak menuju dewasa, selalu penasaran, dan ingin merasakan berbagai hal, termasuk hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh siapa pun, apalagi dilakukan pada usia mereka.
Kondisi psikologis anak remaja yang sedang melakukan pencarian jati diri, menjadikan tindakan-tindakan heroik yang memiliki kecenderungan melanggar hukum dan memacu adrenalin, sebagai tindakan yang menarik bagi mereka.
Keinginan untuk dipandang dan menjadi hebat mendorong mereka untuk mencuri perhatian orang-orang di sekitar mereka. Sayangnya geng motor merupakan cara yang salah untuk mendapatkan perhatian atau dipandang hebat. Selain itu, ideologi dan nilai-nilai yang diterapkan geng motor kepada mereka merupakan nilai-nilai dendam dan kejahatan yang belum mampu disaring dengan baik oleh anak remaja seusia mereka.
Fenomena sosial terkait dengan geng motor dapat dihapuskan dengan upaya dan kerja sama yang dilakukan oleh berbagai pihak. Pihak-pihak yang dimaksud adalah orangtua, sekolah, kepolisian, dan masyarakat.
Orangtua berperan penting dalam mendidik pemahaman anak terhadap suatu hal dalam pergaulan mereka dan bekal pemahaman akan nilai-nilai moral juga agama. Sekolah berperan dalam pendidikan sekaligus pengawasan pergaulan siswanya selama siswa tersebut berada di luar pengawasan langsung orang tuanya.
Artinya, sekolah menjadi media pergaulan seorang anak remaja dengan teman-temannya sehingga sekolah seharusnya mengetahui betul bentuk pergaulan seperti apa yang menjadi kegiatan mereka.
Selanjutnya adalah peran kepolisian dan masyarakat. Peran mereka dalam hal ini sama-sama memberikan pengawasan serta arahan terkait fenomena bersifat sosial yang terjadi di sekitar mereka. Artinya polisi bertindak sebagai eksekutor terhadap tindak-tindak pidana yang berpotensi dilakukan oleh geng motor, sedangkan masyarakat melakukan pengawasan terhadap lingkungan mereka dengan menolak keberadaan geng motor.
Dengan penolakan masyarakat, sebuah geng motor tentu tidak akan berani mengganggu lingkungan masyarakat tersebut karena penolakan tersebut merupakan ancaman bagi keberadaan mereka.
Dengan menjalankan peranannya masing-masing, upaya yang dilakukan pihak-pihak terkait dalam menghapuskan keberadaan geng motor tentu tidak akan sia-sia. Keberadaan geng motor merupakan kemunculan fenomena yang negatif. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk menghentikannya harus dilakukan dengan serius dan fokus.
Dengan menghapuskan keberadaan geng motor, masa depan generasi  muda akan lebih baik tanpa kekerasan dan juga tindakan kriminal. Para anggota geng motor yang mayoritas masih berusia remaja ini dapat melakukan kegiatan yang lebih positif dan kreatif.
Sikap Positif dalam Memandang Suatu Fenomena Sosial
Fenomena bersifat sosial yang terjadi di tengah masyarakat sangat beragam. Dari keberagaman fenomena tersebut, terdapat fenomena yang negatif dan juga positif. Sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat, kita harus dapat menyikapi suatu fenomena tersebut dengan sikap positif.
Sikap yang positif ini berlaku bagi setiap fenomena yang muncul di sekitar kita. Sikap positif bukan berarti memandang positif setiap fenomena yang terjadi, tetapi menentukan sikap yang positif bagi suatu fenomena tersebut.
Beberapa fenomena bersifat sosial yang sedang terjadi di tengah masyarakat saat ini di antaranya adalah korupsi, kekerasan, kemunculan jejaring sosial, kemunculan K-Pop, kemunculan artis instan, dan sebagainya.
Dari beberapa fenomena tersebut, tentu terdapat fenomena yang positif dan juga negatif. Korupsi misalnya, merupakan fenomena sosial yang negatif, sedangkan kemunculan jejaring sosial dapat menjadi fenomena yang positif. Untuk memandang fenomena sosial tersebut, diperlukan sikap-sikap positif yang dapat dilakukan, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Fenomena Sosial Lahir dari Kausalitas
Sikap positif dalam memandang suatu fenomena yang bersifat sosial harus diawali dari melihat sebab dan kemudian akibatnya. Misalnya, fenomena korupsi yang terjadi di negara ini disebabkan oleh kekuasaan hukum yang lemah. Kemudian akibat yang ditimbulkan oleh korupsi adalah kerugian negara yang terhambat dalam melaksanakan pembangunan.
Setelah melihat sebab dan akibat dari fenomena korupsi, maka sikap positif yang perlu dilakukan adalah mencari tahu dan optimis terhadap upaya yang dapat dilakukan untuk menghapuskan korupsi serta bertekad untuk tidak melakukan tindakan korupsi.
2. Fenomena Sosial yang Negatif Selalu Membutuhkan Solusi
Fenomena sosial yang negatif selalu membutuhkan solusi bukan hanya sikap nyinyir terhadap suatu permasalahan. Misalnya, fenomena kekerasan yang dilakukan suatu agama tertentu terhadap agama yang lain atau kekerasan dalan satu agama.
Fenomena ini tentu membutuhkan solusi bukan hanya hujatan terhadap suatu agama. Dengan demikian, sikap positif yang dapat dilakukan adalah dengan menyumbangkan solusi atau penyelesaian masalah bagi fenomena tersebut. Caranya dapat dilakukan dengan berbagai macam bentuk, misalnya menuliskan opini dalam surat kabar mengenai fenomena tersebut dan solusinya, maupun mengadakan diskusi terbuka.
3. Memberikan Dukungan Terhadap Fenomena Sosial yang Dipandang Baik
Fenomena kemunculan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter dapat berdampak positif bagi pemanfaat teknologi sebagai bisnis, pergaulan, penyebaran informasi, media belajar dan sebagainya.
Terhadap fenomena seperti ini, sikap positif yang dapat dilakukan adalah memberikan dukungan terhadap fenomena tersebut dengan tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak manfaat dari kemunculan jejaring sosial. Dengan begitu, fenomena yang positif dari kemunculan jejaring sosial ini dapat berkembnag lebih baik bagi masyarakat.
Dengan bersikap positif terhadap suatu fenomena sosial, kita dapat lebih bijak dan rasional dalam memandang suatu gejala sosial. Dengan demikian, sebagai bagian dari masyarakat kita dapat berpartisipasi aktif untuk melakukan upaya-upaya maksimal menghadapi fenomena negatif dan ikut mendukung berkembangnya suatu fenomena yang positif.